Browning atau pencoklatan sering terjadi pada buah-buahan seperti peach, pear, salak, pisang dan apel. Kitika kita memakan buah tersebut maka pada potongan sisanya akan berubah warna menjadi ke coklatan. Dalam ilmu pangan, gejala itu dinamai reaksi enzimatis atau browning atau pencoklatan. Yaitu, terbentuknya warna coklat pada bahan pangan secara alami atau karena proses tertentu. pada kelompok buah-buahan proses pencoklatan itu nampaknya tak dikehendaki karena warnanya menjadi tidak segar.
Untuk
meminimalisir reaksi pencoklatan enzimatis, dapat dilakukan proses blansing
atau penambahan zat kimia. Pencegahan pencoklatan enzimatis dengan mengurangi
kontak dengan pisau besi dan stainless steel. Talas yang dipotong dengan pisau stainless steel
akan lebih lama mengalami reaksi pencoklatan enzimatis dibandingkan dengan
pisau besi karena karena pisau stainless steel
adalah jenis pisau besi yang dilapisi baja tahan asam
dan basa sehingga tidak mudah
berkarat karena tidak mudah
mengalami oksidasi.
Demikian
juga pada hasil pengamatan, hanya talas yang menunjukkan hasil yang menyimpang
dari literatur. Kemungkinan yang terjadi munkin karena pemotongan talas yang
tidak sama besarnya dimana talas yag dipotong dengan pisau besi lebih tebal
dibandingkan dengan talas yang dipotong dengan pisau steinless steel sehingga
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai reaksi pencoklatan relatif
sama. Pencoklatan talas disebabkan adanya polifenol oksidase yang
mengkatalisis terjadinya oksidasi antar polifenol dengan udara dan dapat
dihambat dengan antioksidan. Dengan
adanya kontak logam dengan daging talas yang mengandung tannin yang semula tidak berwarna, menyebabkan perubahan warna yang lebih gelap. Kontak dengan besi akan memudahkan terjadinya oksidasi
yang berujung pada pencoklatan atau browning, selain itu kecepatan browning juga
dipengaruhi oleh luas permukaan pemotongan talas. Pada saat percobaan, talas
yang dipotong dengan pisau besi permukaannya lebih luas sehingga
browning lebih lambat
(Lilian, 1973).
Pencoklatan
pada buah pear,talas dan buah lain setelah di kupas disebabkan oleh
aktifitas enzim polifenol oksidase, yang dengan bantuan oksigen akan
mengubah gugus monophenol menjadi o-hidroksi phenol, yang selanjutnya
diubah lagi menjadi o-kuinon. Gugus o-kuinon inilah yang membentuk warna
coklat. Perubahan-perubahan ini akan menurunkan mutu buah apel secara
drastis. Talas yang rusak biasanya tidak baik dan bahkan tidak sehat untuk
dimakan. Pencegahan pencoklatan enzimatis dengan cara mengurangi kontak
dengan oksigen.
Sampel
sayuran terlebih dahulu direndam dalam larutan garam selama 2 menit sedangkan
sampel sayuran direndam dalam larutan gula selama 3 menit. Setelah waktu
perendaman, dilakukan pengamatan terhadap sifat organoleptik seperti warna,
kekerasan, dan aroma. Berdasarkan hasil pengamatan, perendaman sayuran dan buah
ternyata dapat memperlambat reaksi pencoklatan enzimatis. Itu terlihat dari
warna dan kesegaran yang relatif tidak berubah dan bahkan kerenyahannya
menunjukkan tingkat yang sama dengan buah yang masih segar.
Pencegahan
pencoklatan enzimatis dengan cara menonaktifkan enzim polifenol oksidasi (PFO).
Salah
satu upaya untuk mencegah pencoklatan buah akibat oksidasi enzim dapat
digunakan antioksidan untuk mecegah pencoklatan dan melindungi buah- buahan dan
sayuran. Menurut Wisnu, (2006) berdasarkan sumbernya antioksidan terdapat
antioksidan yang bersifat alami, seperti komponen fenolik/flavonoid, vitamin E,
vitamin C dan beta-karoten. Menurut Murniramli (2008), vitamin C (absorbic
acid) akan menghambat enzim di dalam apel untuk bereaksi dengan oksigen
atau dengan kata lain kerja enzim dirusak oleh vitamin C. Asam sitrat
dalam hal ini fungsinya hampir menyerupai vitamin C dengan mekanisme
merusak enzim yang dapat menyebabkan pencoklatan. Menurut beberapa sumber,
asam Selain itu penambahan asam sitrat juga akan mempengaruhi
tingkat pencoklatan apel fresh cut. Hal tersebut setidaknya terlihat
pada menit ke –0 dimana penambahan asam sitrat 0,5%, menunujukkan tingkat
pencoklatan yang paling rendah (Anonim, 2009). Selain larutan di
atas, juga ada larutan Na-bisulfit (larutan kapur) yang juga bertujuan
memperlambat reaksi pencoklatan enzimatis.
Dari
hasil pengamatan larutan Na-Bisulfit menunjukkan reaksi yang bagus dimana warna
lebih mendekati warna kontrol. Berurut dengan perendaman dalam asam sitrat juga
mendekati warna kontrol tetapi dari segi kualitas masih dibawah Na-Bisulfit.
Sedangkan asam askorbat menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh dengan
perendaman dalam air dimana tingkat kecerahan lebih rendah dari air.
Hal
ini juga dapat diterapkan kedalam pengolahan talas, karena proses browning pada
talas juga disebabkan oleh oksigen sama seperti pada buah apel dan buah
lainnya.
Sumber:
Taufik. 2008. Browning Pada
Makanan. http://taufiq80.multiply.com/journal/item/10 (diakses tanggal 12 Januari 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar